A.
Tokoh yang Berpengaruh dalam
Teori Roe
Anne Roe (28 Agustus 1904- 28 Juni 1991) adalah
seorang dosen di Universitas Arizona, sekaligus juga Psikolog ternama Amerika.
Karyanya yang terkenal adalah The
Psychology of Occupations (1959). Anne Roe mengemukakan pandangannya,
sebagai berikut, “Pola pengembangan arah pilih jabatan terutama, sangat
ditentukan oleh kesan pertama. Yaitu pada masa bayi dan masa awal kanak-kanak,
berupa kesan atas perasaan puas dan tidak puas, selanjutnya akan terus
berkembang menjadi suatu kekuatan yang berupa energi psikis.”
Teori Roe dirumuskan berdasarkan hasil
penelitian-penelitian yang dilakukan mengenai latar belakang perkembangan dan
kepribadian para ilmuwan di berbagai bidang, antara lain ilmu-ilmu pengetahuan
sosial dan ilmu-ilmu pengetahuan alam (biologis). Teori Roe tergolong teori
pilihan karir yang berdasar pada teori kepribadian. Hal yang dianggap penting
di dalam teori ini adalah kebutuhan dan adanya jenis-jenis kepribadian. Dalam
hal kebutuhan, orang akan memilih pekerjaan yang dapat memuaskan kebutuhannya. Pandangan-pandangan yang berpengaruh pada
penyusunan teori Roe, yaitu teori penyaluran tenaga kejiwaan dan pengaruh
pengalaman masa kecil (Murphy), teori kebutuhan (Maslow), dan faktor keturunan.
B.
Konsep Dasar Teori Roe
Teori Roe atau
biasa disebut sebagai “a need theory
approach to career choice” atau teori pemilihan karir dengan pendekatan
kebutuhan, memandang pilihan karir seseorang dipengaruhi oleh tiga komponen
yang mendasar dalam hidup. Ketiga komponen tersebut adalah sebagai berikut.
1.
Pengaruh
Hereditas terhadap Putusan Karir
Roe memandang bahwa
pada prinsipnya individu memiliki berbagai potensi bawaan yang akan menentukan
sifat-sifat, minat, bakat dan tempramen. Pada akhirnya potensi tersebut
memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan seseorang terutama dalam pemilihan
karir yang akan dilalui pada masa yang akan datang. Seorang anak yang terlahir
dari keluarga yang bekerja pada bidang jasa cenderung juga akan bekerja pada
bidang jasa ketika ia dewasa kelak, demikian juga halnya dengan bidang
pekerjaan lainnya. Sifat, minat, bakat dan temperamen individu diturunkan dari
orang tua mereka.
2.
Pengalaman
Masa Kecil
Berbagai pola asuh yang diterima individu pada masa
anak-anak akan mempengaruhi bagaimana pilihan karirnya di masa depan. Selain itu,
suasana dan iklim yang ada di keluarga juga memiliki kontribusi besar terhadap
pilihan karir individu. Suasana yang terjadi tersebut dapat saja berupa hal
yang positif, seperti, kasih sayang, penuh perhatian, dan saling menghargai.
Suasana negatif, misalnya, perlakuan kasar, kekerasan, acuh tak acuh dan
keluarga yang broken home.
Roe dan Siegelman mengemukakan hipotesis mengenai
pengaruh pendiddikan dan pola asuh orang tua terhadap anak sebagai berikut.
a. Lingkungan keluarga yang
mencintai, melindungi dan menuntut secara wajar akan menuntun anak menjadi
orang yang memiliki orientasi di masa kanak-kanak dan orang yang berorientasi
dalam pekerjaan yang akan ditempatinya.
b. Lingkungan keluarga yang
menolak, mengabaikan dan tidak acuh terhadap anak akan menggiring anak menjadi
orang yang tidak memilki orientasi dalam pekerjaan.
c. Kondisi yang terlalu
melindungi (over-protective) atau
menuntut terlalu berlebihan akan menjadikan anak tidak memiliki orientasi dalam
pekerjaan,
d. Sebagian anak yang berasal
dari keluarga yang bersifat menolak kemungkinan orientasinya menjadi mencari
kepuasan.
e. Lingkungan keluarga yang
santai dan mencintai akan memberikan jumlah keterkaitan yang memadai.
Dalam perkembangan jabatan, Anne Roe menekankan dampak
dari keseluruhan pengalaman anak kecil dalam lingkungan keluarga inti. Gaya
interaksi orang tua dan anak, serta pengaruh pola pendidikan keluarga menjadi
kebutuhan perkembangan anak yang berhubungan dengan kebutuhan pribadi dan gaya
hidup dewasa nanti.
Roe mengemukakan tiga kategori pendidikan yang di
terapkan oleh orang tua. Ketiga kategori tersebut adalah sebagai berikut.
a. Menjauhi Anak
Perilaku orang tua yang menjauhi anak cenderung akan
bersifat sebagai berikut.
1) Menolak
Dingin,
bermusuhan, menunjukkan kekurangan-kekurangan dan mengabaikan
preferensi-preferensi dan opini-opini anak.
2) Mengabaikan
Memberikan
perawatan fisik minimum tidak memberikan afeksi, dingin tetapi tidak menghina.
b. Konsentrasi Emosional pada
Anak
Pemusatan perhatian pada anak memiliki dua
kategori,yaitu.
1) Overprotecting
Memberikan
perlindungan berlebih-lebihan (cenderung hangat),terlalu baik, penuh kasih
sayang, membolehkan sedikit kebebasan pribadi, melindungi dari yang
menyakitkan.
2) Overdemanding
Terlalu
menuntut (cenderung dingin), menentukan standar-standar tinggi, mendesak untuk
memperoleh prestasi akademik yang tinggi, dalam bentuknya yang ekstrim
cenderung menolak.
c. Penerimaan terhadap Anak
Pola penerimaan terhadap anak di bagi menjadi dua,
yaitu.
1) Santai atau Casual
Sedikit
kasih sayang, responsif kalau pikiran tidak kacau,tidak ambil pusing tentang
anak, membuat beberapa peraturan dan tidak melaksanakannya.
2) Penuh Kasih atau Loving
Memberikan
perhatian hangat dan penuh kasih sayang, membantu dengan rancangan-rancangan,
menggunakan penalaran dan bukan hukuman, mendorong independensi.
Menurut Roe dari kategori emosional yang ada di dalam
rumah tersebut, kategori penuh kasih, overprotective
dan overdemanding akan cenderung
menghasilkan seseorang yang kejuruannya beroriantasi pada kontak dengan orang
lain (person oriented). Sedangkan
kategori santai, menolak dan mengabaikan cenderung menghasilkan seseorang yang
kejuruannya beroriantasi pada benda-benda (non_person
oriented).
3.
Kebutuhan-Kebutuhan
Manusia
Kebutuhan-kebutuhan
individu dapat mempengaruhi pilihan karir individu tersebut. Dalam hal ini Roe
berpijak kepada teori kebutuhan yang dikemukakan oleh Maslow. Secara hirarki
Maslow menyebutkan motif kebutuhan individu (dalam Alwisol, 2012 : 204-206),
yaitu.
a. Kebutuhan fisiologis (physiological needs)
b. Kebutuhan keamanan (safety needs)
c. Kebutuhan dimiliki dan dicinta (belonging and love needs)
d. Kebutuhan harga diri (self esteem needs)
e. Kebutuhan aktualisasi diri (self actualization needs)
Hirarki
kebutuhan Maslow ini lazim juga digambarkan sebagai piramida, dimana kebutuhan paling dasar memiliki ruang paling luas
dan semakin ke atas ruang yang tersedia semakin kecil. Disana dapat diliat
bahwa manusia dalam kehidupannya memiliki tingkatan-tingkatan kebutuhan yang
mesti dipenuhi, sesuai dengan taraf dan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan. Ada
kebutuhan yang dapat terpenuhi dengan mudah, kebutuhan yang tertunda dan bahkan
ada kebutuhan yang tidak dapat terpenuhi sama sekali.
C.
Pilihan
Karir Berdasarkan Teori Roe
Roe menggolongkan seluruh jabatan atas dua
kategori dasar (dalam Winkel dan Hastuti, 2007:630), yaitu.
a.
Person
Oriented
Pekerjaan
yang berorientasi pada kontak dengan orang lain. Misalnya orang -orang yang
suka bekerja bersama dengan orang lain, di anggap cenderung demikian karena
mereka menghayati kebutuhan yang kuat untuk di terima baik oleh orang lain.
Semua orang ini di didik oleh orang tua yang menunjukan sikap menerima dan
menyayangi. Kelompok atau penggolongan pekerjaan yang tergolong dalam kelompok
ini adalah.
1) Jasa (service)
Pekerjaan-pekerjaan yang
tugas utamanya berhubungan langsung dengan kebanyakan orang dan bertugas untuk
melayani orang lain serta berbuat untuk kepentingan orang lain.
2) Kontak bisnis (business contact)
Pekerjaan-pekejaan yang
langsung berinteraksi langsung dengan orang lain dengan tujuan lebih kepada
upaya untuk mempengaruhi dibandingkan dengan berbuat untuk kepentingan orang
lain.
3) Organisasi (organization)
Pekerjaan-pekerjaan
manajerial serta membentuk interaksi yang bersifat formal untuk mencapai suatu
tujuan tertentu.
4) Kebudayaan (general culture)
Pekerjaan-pekerjaan yang
tujuan utamanya adalah upaya untuk pelestarian dan pewarisan budaya,seperti
halnya pendidikan.
5) Seni dan hiburan (art and entertainment)
Pekerjaan-pekerjaan yang
membentuk interaksi antara orang-orang yang memiliki kreatifitas dan
keterampilan khusus.
b.
Non-Person Oriented
Pekerjaan
yang berorientasi pada benda-benda. Pekerjan non-peron oriented ini biasanya adalah orang- orang yang lebih suka
bekerja dengan menangani barang atau benda tanpa mencari kontak dengan individu
di sekitarnya itu di anggap berkecenderungan demikian karena mereka menghayati
kebutuhan yang kuat untuk merasa aman dan terlindung dari bahaya. Kelompok atau
penggolongan pekerjaan yang tergolong dalam non-peron
oriented adalah.
1)
Teknologi
(technology)
Pekerjaan-pekerjaan
yang berorientasi kepada produksi, pemeliharaan dan segala sesuatu yang
berhubungan dengan barang
2)
Luar
ruangan (outdoor)
Pekerjaan-pekerjaan
yang dilakukan di ruangan terbuka/alam bebas dan tidak terlalu
tergantung/membutuhkan adanya interaksi dengan banyak orang.
3)
Ilmu
pengetahuan (science)
Pekerjaan-pekerjaan
yang berhubungan dengan pengembangan keilmuan, teori, konsep dibidang ilmu yang
berhubungan dengan perilaku.
Roe
(dalam Munandir, 1996:105) mengemukakan bahwa terdapat enam tingkatan atau aras
dalam karir. Keenam tingkatan tersebur adalah.
a.
Tak
terampil, pekerjaan pada tingkat ini tidak membutuhakan keahlian atau
pendidikan khusus.
b.
Semi
terampil, pekerjaan pada tingkatan ini telah menuntut adanya keterampilan dan
pengalaman khusus, namun belum mensyaratkan adanya kemandirian dan inisiatif yang
tinggi dari individu.
c.
Terampil,
pekerjaan pada tingkatan ini menuntut adanya keterampilan dan pendidikan khusus
pada individu.
d.
Semi
professional dan bisnisk kecil, pekerjaan pada tingkatan ini telah menuntut
adanya tanggung jawab dalam skala rendah dan kebijaksanaan untuk diri sendiri.
Individu pada tingkatan ini berpendidikan menengah atas umum atau tekhnologi
kejuruan.
e.
Professional
tingakatan kedua, mensyaratkan adanya kemandirian dan tanggung jawab yang lebih
besar serta telah menerapkan sistem manajerial yang baik. Individu yang berada
pada tingkatan ini memiliki pendidikan yang baik, yakni berada pada jenjang
sarjana hingga master.
f.
Professional
tingkatan pertama, secara mandiri telah mampu untuk berkarya cipta dan
menerapkan sistem manajerial secara baik. Pada tingkatan ini telah terbentuk
tanggung jawab penuh pada individu untuk mengaambil berbagai keputusan dan
kebijaksanaan. Individu yang berada pada tingkatan ini memiliki pendidikan yang
relatif tinggi dan mapan.
D.
Kelebihan
dan Kelemahan Teori Roe
Kelebihan dari
teori Roe adalah sebagai berikut.
a.
Teori Roe lebih
mengutakan pada pemilihan karir dengan pendekatan kebutuhan.
b.
Kombinasi antara
hubungan orang tua-anak pada masa dini, pengalamanlingkungan, dan faktor-faktor
genetik, menentukan perkembangan struktur kebutuhan itu. Individu kemudian
belajar untuk memuaskan kebutuhannyatersebut. Intensitas kebutuhan merupakan
faktor penentu utama yang memotivasiindividu untuk mencapai tingkat hierarkhi
yang lebih tinggi dalam suatu struktur
pekerjaan.
c.
Roe telah memberikan
kontribusi yang besar pada konseling karir yaitu dengan mengarahkan banyak
perhatian pada periode perkembangan masa kanak-kanak.
d.
Teori
Roe telah membangkitkan banyak penelitian.
e.
Jika
perlakukan orang tua terhadap anak dan pilihan jabatan yang dikehendakisesuai
di kemudian hari, pandangan ini mempunyai sedikit relevansi bagikonselor karier
dan konselor tidak mengalami kesulitan dalam mengarahkan karir anak.
Sedangkan
kelemahan dari teori ini adalah sebagai berikut.
a. Hanya sedikit saja yang mendukung model
teori tersebut.
b.
Perbedaan
interaksi orang tua-anak menghasilkan perbedaan dalam pemilihan pekerjaan.
c. Pendapat Roe bahwa interaksi orang
tua-anak berpengaruh terhadap pilihan pekerjaan di kemudian hari ternyata sulit
untuk divalidasi.
d. Jika terjadi perbedaan antara keinginan
orang dan ketidaksesuaian dengan minatdan bakat anak, maka pandangan ini tidak
akan sesuai bagi konselor karier sehingga konselor akan mengalami kesulitan dalam
mengarahkan karir anak dan konselor perlu waktu untuk menyesuaikan kondisi yang
dihadapi tersebut.
E. Aplikasi
Teori Roe dalam Bimbingan Karir
Sesuai dengan teori
Anne Roe dalam rangka usaha bimbingan karir, salah satu komponen yang perlu
diperhatikan adalah faktor hereditas atau keturunan. Roe
memandang bahwa pada prinsipnya individu memiliki berbagai potensi bawaan yang
akan menentukan sifat-sifat, minat, bakat dan tempramen. Pada akhirnya potensi
tersebut memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan seseorang terutama dalam
pemilihan karir yang akan dilalui pada masa yang akan datang. Dalam
pengembangan bimbingan karir, konselor perlu memperhatikan adanya potensi yang
dimiliki oleh individu tersebut.
Pengaplikasian
teori Roe dalam bimbingan karir di sekolah salah satunya dengan melibatkan
peranan orang tua dalam pelaksanaan
bimbingan karir. Peran orang tua dalam bimbingan karir itu sendiri menurut
Ruslan A. Gani (1996:68) misalnya dengan menyelenggarakan seminar atau diskusi yang
melibatkan orang tua, konselor dan individu itu sendiri untuk membicarakan
cara-cara yang memunginkan mereka membantu putera puterinya merencanakan dan
mempersiapkan pekerjaan dan kehidupan sesudah tamat sekolah. Orangtua dapat menggunakan
informasi dari sekolah tentang bakat, minat, intelegensi, kepribadian, prestasi
belajar, kegagalan-kegagalan, kesuksesan, dan sebagainya

